Di Tepi Jendela Kereta Favoritku!

Aku girang mendapati tiket keretaku menujuk posisi tempat duduk di samping jendela kereta. Perjalanan akan semakin menarik, karena aku tahu akan banyak sekali kenangan yang muncul sepanjang rel yang dilalui. Likunya, tanjaknya, turunnya, hentinya, dan inilah waktu terbaik untukku memutar kembali memori.

Segala sesuatu yang bergerak di luar jendela seperti adegan hidup. Melambat, kemudian semakin cepat, kemudian melambat, dan berhenti. Dan aku menyaksikan begitu banyak kehidupan sepanjang perjalanan ini. dan hidupku yang seperti itu.

Jendela ini memantulkan wajahku yang terlihat semakin tua tapi tidak semakin bijaksana. Berkali-kali kufur nikmat, berkali-kali meninggalkan shalat, berkali-kali berbohong. Entah berapa banyak keburukan lainnya yang kulihat di sana.

Kereta melaju.

Melewati beberapa stasiun, berhenti, dan pergi. Seperti selama ini aku melewatkan beberapa orang baik yang bersedia menerimaku apa adanya. Aku hanya singgah pada kenangannya tanpa menjadi pasangannya. Bedanya, kereta ini punya tujuan akhir yang sudah diketahui. Sedangkan aku sama sekali tidak tahu, barangkali ujungnya adalah jurang dan aku jatuh, sendirian.

Kereta semakin cepat.

Segala geraknya menjadi semakin cepat, seperti hidup akhir-akhir ini. Rasanya waktu begitu cepat, sehari berlalu begitu saja dan sepekan terasa seperti sehari. Baru saja berganti tahun dan tak terasa januari sudah akan berakhir dalam 4 hari lagi. Aku tidak tahu apa yang telah aku perbuat selama ini, sepertinya semuanya sia-sia.

Duduk di tepi jendela kereta selalu berhasil membuatku merasa menjadi orang paling tak berharga, selalu berhasil menumbuhkan penyesalan dan keinginan untuk mengubah diri menjadi lebih baik bila turun dari kereta nanti.foreigners-love-japan-train.jpg

Kereta ini memaksaku untuk diam saja, melihat kehidupan orang lain yang bergerak. Memaksaku untuk membiarkan kenangan itu mengalir sepanjang perjalanan

Iklan

Tentang Mimpi

Saya pernah ikut duduk berdiskusi tentang manusia. Bersama orang tua dan orang muda sambil menghisap secangkir kopi dan sajian khas pedesaan, seperti singkong goreng, sukun goreng, dan kacang tanah yang direbus.

Kami menikmati hidangan itu sambil berdiskusi tentang hidup. Ada hal-hal terbaik yang saya dapatkan, dan mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di bangku perkuliahan. Tentang kehidupan manusia dan tentang betapa mutakhirnya cara hidup orang-orang tertentu.

Saya tidak tahu harus memulai pembahasan ini darimana. Mari mengalir saja seperti angin. Seperti hidup yang kita jalani saat ini. Dimana kita hidup ditengah masyarakat yang semakin konsumtif. Kita seakan dipaksa untuk membutuhkan sesuatu padalah tidak. Iklan-iklan berbagai macam barang ciptaan manusia silih berganti kita saksikan sehari-hari. Kita seakan dipaksa untuk tidak pernah cukup pada apa-apa yang kita miliki.

Hidup kita semakin rentan. Apalagi bagi kita yang hidup di perkotaan. Dimana segala hal yang kita butuhkan di datangkan dari luar. Sayuran, beras, air, listrik, pakaian, dan segala yang mengisi rumah kita hampir tidak pernah berasal dari sekitar rumah kita sendiri.

Pernah mengalami mati listrik? Air PDAM mati? Kelangkaan beras? Kelangkaan BBM? Kelangkaan cabai? dan segala hal yang apabila itu tidak ada, seolah-olah hidup kita berakhir? Terjadi kerusahan, terjadi pertikaian, dan berbagai hal yang mungkin sering kita saksikan di media masa.

Diskusi kami pada waktu itu hanya ingin menyentuh kesadaran kami sebagai orang kota. Bahwa manusia yang tinggal di perkotaan adalah manusia yang paling rentan. Kita tidak pernah bisa hidup mandiri, segala kebutuhkan kita harus didatangkan dari luar kota. Mungkin saat ini kita merasa segalanya ada di kota. Terasa semuanya tersedia. Padahal itu semua adalah sebuah kenyataan semua. Semuanya tidak tersedia di kota, semuanya itu tersedia dari tempat jauh, tempat yang kita anggap terbelakang, jauh dari peradaban. Ya, tempat itu adalah pedesaan.

Masyarakat desa adalah masyarakat yang paling kuat dari banyak segi kehidupan. Mereka memiliki daya juang yang tinggi, mereka bahkan mampu menghidupkan dapur mereka dari apa yang ada di sekitar rumahnya.

Tidak ada bbm, tidak masalah. Tidak ada listrik, tidak begitu panik. Tidak ada wifi, hidup tetap berjalan. Kelangkaan cabai? Bahkan cabai tumbuh di halaman rumah. Beras dihasilkan dari sawah sendiri, sekali panen biasanya cukup untuk satu tahun kedepan.

Kehidupan berjalan secara harmonis ketika masyarakat dikota kebingungan karena menara BTS ada gangguan dan kehilangan sinyal beberapa jam. Kita mungkin tidak menyadarinya, bahwa kita adalah manusia-manusia yang paling rentan. Dan kita semakin mengokohkan diri ketika kita menjadi semakin konsumtif, ketika apa yang kita butuhkan tidak ada, kita juga tidak bisa menghasilkannya sendiri, mendadak kita marah-emosional-dan merasa hidup ini begitu sulit.

Diskusi itu sudah lama terjadi. Sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Diadakan di sebuah desa yang jauh. Dan yang berdiskusi adalah orang-oran yang hadir dari kota. Kemudian dari diskusi itulah, lahir keinginan saya untuk tinggal di desa suatu hari nanti. Tempat yang cukup tenang untuk bisa hidup sebagai petani, petani yang menulis 🙂

me.re.ka

Sedang ada yang membanggakan pelukmu di hadapan orang-orang yang dia kenal. Mungkin yang dikira aku akan iri, tapi sayangnya berada dalam dekapmu aku pernah. Bahkan mungkin lebih lama dan dalam.

Sedang ada yang memamerkan kedekatan denganmu pada semua orang yang dia tahu. Mungkin dikiranya aku akan terbakar, tapi sayangnya aku lebih dari sekedar dekat denganmu. Tanpa perlu siapa-siapa tahu.

Sedang ada yang mengisyaratkan lelapmu pada orang-orang yang mengenalmu. Mungkin dikiranya aku akan menjadi berang, tapi sayangnya berada di sampingmu saat matamu belum terpejam hingga kemudian terbangun saat mentari menyapa, aku pernah.

Bila segalanya sudah pernah bagiku. Lalu apa lagi yang ingin mereka perlihatkan padaku? Ah ya, ada yang terlupa. Menjadi milikmu, aku belum. Menjadi milikku, kamu belum.

tumblr_opg436Az4L1ugp61po1_500

Filled ma Eyes.

I can’t see you and pretend that you didn’t hurt me.
I can’t see you and not think about all the things I wanted to talk to you about instead of talking about work and the weather. All the secrets I wanted to share with you and all the stories I wish you had told me. I can’t see you and pretend like I don’t wonder what could have been or why you had to disappear too soon.
I can’t pretend like I don’t know about her. I can’t pretend like I don’t know you’re giving her your attention, your time and your love. I can’t pretend like it doesn’t bother me every time I see you and think that you picked her and I still don’t understand why.
I can’t get over how quickly things have ended, how quickly they collapsed. I can’t get over how you didn’t say a word and how I didn’t ask you a single question. I can’t get over this silence or how quickly you replaced me.
Part of me just wants to be honest with you and tell you everything. But I can’t get myself to tell you anything because I don’t know if you’ll ever understand. I don’t know if you’ll ever feel it. I don’t know if you even know how much you meant to me.
But part of me also believes that maybe you know exactly what happened, maybe you know exactly what I’m going through or how I’m feeling. Maybe you know everything I heard about you and her and you’re still choosing to ignore it. You’re still choosing to act like it’s not a big deal. You’re still choosing to disregard my feelings and that’s just something I can’t forgive. That’s just something I can’t forget.
I can’t see you and treat you like a stranger or a friend. I can’t see you and pretend like I don’t want to touch you or tell you that I miss you. I can’t see you and pretend like it’s over because for me, it’s not. For me, it didn’t even start. For me, it still doesn’t make any sense. For me, it still feels like a nightmare that I’ll eventually wake up from.tumblr_o30pr5tmfU1twt4dho2_540

Deep Talk

” I found someone better for me ”
” Me too “

” So I guess this is the end ”
” But, I close my eyes for them, I still choose you. “

If you want to look for beauty. As soon as you get married to her. 10 minutes later, you’ll see that the bridesmaids look better than her.

If you want to look for money. Soon enough, there will be a man who are richer than him. Who drives a better car than him. Who owns a bigger house than him.

There’s always someone better.
And this is where it ist all about. It’s about gratitude. It’s about loyalty. Who can stays with you unconditionally.

Who doesn’t look for the perfection inside you but creates the perfection inside you.

Who can accept your flaws and changes it into your speciality. Who can grow up together with you through thick and thin. Who can face the dificulties with you and finally together gain the victory.

Who doesn’t find it.
But makes it.

Remember, we can’t make people stay with us after letting them know our past and see our flaws. Those who decided to stay are those who are worth to keep.

And remember, if they want to make a leave for your imperfection. Let them leave. Grow up. Be amazing. Prove them that you were still alive after being killed.

Soon, you’ll be higher than them.
And remember, if they want to come back you. Know that, as before this they can’t accept your past, now then, they also don’t deserve your future.tumblr_npq5jkinub1twt4dho9_540

A loser will always looking for perfection.
They can’t stop for it. They are a greedy and impatient asshole.

When you were flawed. Find and fight for someone who are going to lift you. Not someone who are going to leave you.

—–

Bisa?

Sudah terlalu lama kita saling menebak, membiarkan hati yang menerka, kemudian akhirnya kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan.

Aku semakin penasaran tapi tidak bisa bertanya, sementara kamu tidak kunjung menjelaskan. Sebatas itu saja. Tidak ada perkembangan.

Pada awalnya aku menyerahkan semua pada waktu. Mungkin seiring dengan berjalannya waktu, kamu akan yakin padaku dan kata cinta itu terucap.

Tapi ternyata sulit, ya? Cinta memang tidak semulus puisinya anak tumblr.

Lama kelamaan, ketidakjelasan hubungan ini semakin parah karena ditambah ketakutanku.

Aku takut jika selama ini, aku tidak cukup baik.
Takut ternyata dunia kita tidak sama.
Takut kalau aku tidak bisa mengimbangi kamu dan kehidupanmu.
Takut seandainya kamu tak benar-benar menginginkan ada kita.

Dulu, aku selalu percaya “cinta itu tidak perlu saling memiliki”. Seperti kita. Kita tidak perlu menjadi kekasih, kalau hanya menginginkan status. Tapi aku sadar, ternyata doktrin itu yang menjadi penyebab hubungan ini begini-begini saja.

Pada akhirnya, cinta itu perlu pamrih. Seseorang yang mencintai sepatutnya dicintai balik sama baiknya. Aku rasa, kita juga perlu demikian.

Jadi, gimana, kita bisa mulai sekarang?

Memilih

Malam ini aku membuka tumblr, dan tergelitik oleh pertanyaan miftahulfikri pada akun “kunamaibintangitunamamu”.

miftahulfikri asked; Halo, mbak. Kemarin aku sempat tertohok oleh bahasan teman-temanku soal pacaran. Menurut mereka, ada fase dimana kita “pacaran segan, menikah tak mau” yang mungkin saja sebagian orang pernah mengalaminya. Mereka sudah lelah dengan berpacaran yang hanya memenuhi hasrat pemenuhan lifestyle saja, sekedar biar keren dan dibanggakan, tidak dibilang jomblo, atau cuma bisa sekedar diterima di lingkungan pergaulan. Tetapi bila disarankan menikah, mereka juga tidak siap. Bagaimana pendapat mbak soal ini?

Dan dijawablah sepeti ini:

“Halo, mas.

Pada suatu masa semua orang pasti akan terseret ke dalam situasi seperti itu; situasi yang tidak mengurung, tapi orang-orang terjebak di dalamnya. Mereka memilih untuk berdiri tepat di tengah-tengah dua pilihan tersebut: tidak ingin maju juga tidak ingin mundur. Karena jika mereka maju (menikah) atau mundur (putus), mereka akan dihadapi dengan “persoalan” baru.

Ketidaksiapan adalah penghalang segalanya. Ada yang masih ingin bermain-main, masih mengisyaratkan ragu, atau takut mengemban tanggung jawab. Sebagai manusia biasa, wajar jika kita merasakan semua hal itu. Tapi sungguh, siapa yang bisa menentukan kesiapan hati, jika bukan kita sendiri?

Aku rasa, sejentik rasa penyesalan itu pasti akan selalu ada, walau kita telah memutuskan untuk berjalan ke arah yang paling benar sekalipun. Tapi inti dari setiap keputusan adalah kita sadar bahwa kita tidak bisa menggenggam dua hal sekaligus. Apapun yang telah kita pilih, pada masanya itu adalah hal yang paling melegakan kita.

Pada akhirnya, keadaan akan memaksa kita untuk siap. Pada akhirnya, bertahan pada kondisi seperti itu hanya akan membuat kita semakin lelah. Manakah pilihan yang tepat, kita memang tidak pernah tahu itu. Kita akan tahu hanya setelah kita mengalaminya. Tapi jangan pernah merasa kita telah salah memutuskan.”

“Cepat atau lambat, mau atau tidak mau, semua orang pasti harus memilih.” – Hati Sedalam Samudera

Aku sepenuhnya setuju dengan jawabannya, bahkan memang perempuan sangat membutuhkan sebuah kepastian, dan sang pria harus mampu menentukan sikap dan pilihannya.