Sahabat Hantuku Bercerita Tentang Bandung

Bandung Malam Hari, Hujan, udara dingin… 

Waktu yang tepat untuk berdiam diri di dalam kamar, menghabiskan sisa waktu sepulang kerja dengan berdiam di bawah selimut, memakai kaus kaki. Aku suka hujan, dan aku selalu suka segala sesuatu keindahan yang tercipta karenanya. Bagiku, hujan merupakan momen yang sangat romantis… Betapa baik Tuhan memberikan cuaca seperti ini.

Aku tengah melamun, selepas menghabiskan segelas susu panas diatas tempat tidurku. Terkadang hujan memang membiarkan diri terasa seperti seorang pesakitan, manja dan hanya ingin tertidur tanpa batas waktu. Oh seandainya saja tak ada jam kantor, mungkin aku akan memanjakan diriku di balik hujan seharian.

Suara itu kembali muncul, plafon rumah yang bergemuruh, seperti ada kucing raksasa yang sedang berlarian diatas sana. Mataku mulai was-was, hatiku berdegup, jika sudah seperti ini… Aku bisa pastikan kelima sahabatku akan muncul. Entahlah, selalu seperti itu.

Lalu kepalaku melayang pada kata-kata Hans dan Hendrick, “Risa, jika hujan datang, kami selalu merasa kedinginan”. Pantas saja, seharian ini hujan mengguyur kota Bandung. Bisa jadi “mereka” sedang kedinginan dan membutuhkan tempat berteduh. Namun diam-diam hatiku menjerit, malam ini sudah dingin… Dan kedatangan mereka akan membuat malamku menjadi semakin dingin. Kulangkahkan kakiku menuju lemari, membawa jacket tebal yang sengaja kupakai untuk menyambut kedatangan “Mereka”, hantu-hantu kecil sahabatku.

risa saraswati

***

Janshen muncul dari dalam lemari bajuku, aku tersentak kaget! Dan dia hanya tertawa melihat reaksiku. Disusul kemudian Hans dan Hendrick yang dengan santainya muncul dari pintu depan kamar, menembusnya leluasa tanpa pedulikan aku. Disusul kemudian kemunculan Peter, William, dan Marianne. Tak kulihat kedatangan Norma, mungkin dia lebih memilih untuk diam di  gedung sekolah tua yang mereka tempati.

Mereka muncul tanpa mempedulikanku si pemilik kamar, dengan cuek mereka bersliweran di dalam kamarku sambil berlagak kedinginan. Aneh, mereka semua sudah mati, namun mereka berlagak seperti orang hidup. Tapi dibandingkan mereka semua… mungkin akulah yang paling aneh, karena mau bersahabat dengan mereka semua, aku yakin tak sedikit manusia yang menganggapku gila.

“Sepi sekali disini, tidak ada musik?” Peter dengan tampang sok dewasa menanyaiku. Kugelengkan kepalaku. “Ah payah, kau sudah tua! Tak bisa lagi menari berdansa seperti kami!” Hendrick menimpali tanpa menatap ke arahku. Hans menganggukkan kepalanya tanda setuju. Aku hanya bisa berdiam membisu, sesungguhnya aku belum siap menerima tamu ditengah kesendirianku menikmati hujan malam ini.

“Kau tidak suka kami datang ya?” Marianne tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mendadak bulu kudukku meremang, dingin sekali. “Baru saja mau tidur…” Jawabku terbata. “Ah padahal tak ada kami pun kamu selalu tertidur dini hari” William ikut mendekatkan tubuhnya di dekatku. Lagi-lagi bulu kudukku meremang. Senewen aku dibuatnya, dengan kasar aku berjalan cepat menjauhi mereka. “Jangan memojokkan aku, sudah untung kalian kubolehkan masuk”. “Kami tak usah minta persetujuanmu untuk bermain kesini” Peter tak kalah judesnya dengan yang lain. “Sekarang kalian mau apa?” Emosiku mulai tersulut.

Dengan cekikikan Janshen mengarahkan telunjuknya kepadaku, “Nenek tua itu marah-marah lagi! Hihiii”. Kugelengkan kepalaku tanda kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa. “Tolong mainkan musik untuk menghangatkan malam ini, Risa” William mendekatiku dengan lembut. Sambil terus cemberut, aku mengambil random CD musik yang kupunya.

Memutarkannya, dan kemudian anak-anak itu berteriak-teriak menjerit memintaku untuk matikan CD Player. “Oh hehe maaf ” ucapku. Tak usah kuberitahu CD apa yang tadi kuputarkan untuk mereka. Akhirnya Janshen menunjuk sebuah CD, aku tersenyum melihat pilihannya. CD musik milik Mocca, band Idolaku. Dan musik Mocca mulai mengalun di dalam kamarku, tubuh kami bertumpuk di atas tempat tidurku, menikmati irama dan nada yang mengalun.

risa mocca

***

Mereka tersenyum, sama sepertiku. Diam-diam Janshen melompat dari atas tempat tidur, menggoyang-goyangkan badannya dengan sangat lucu. Kami semua tertawa dibuatnya. “Musiknya indah…” Will bergumam kecil. “Memang” Jawabku singkat. Kulihat kini Hans dan Hendrick ikut melompat dan menari bersama Janshen. “Ingat jaman dulu ja, Peter?” Marianne tersenyum menatap Peter. Peter tertunduk, “Ja! Ingat Mama…”

William tampaknya tak ingin Peter hanyut dalam kesedihan tentang Mamanya lagi. Dia menarik lengan Peter, mengajaknya berdansa dengan asal-asalan. Sambil terus bergerak, William mengajakku bicara. “Risa, band ini asal Bandung?” Kuanggukan kepalaku. “Kota ini memang tercipta untuk musik, pantas aku betah berada disini” Ujar William lagi. ” O ya? Bagaimana bisa kau bilang kota ini kota musik?”

“Kau tahu tidak, papaku begitu ingin ditugaskan di tanah ini. Mama bilang, kota ini seperti bagian kecil dari Eropa.” Peter begitu bersemangat, ekspresinya berbeda dengan ekspresi sebelumnya saat menyebut kata Mama. Marianne ikut berbicara lagi, “Kota tempatku tinggal jauh dari sini, tapi aku ingat… orang-orang dewasa di sekolah begitu sibuk berlatih musik. Katanya untuk persembahan musik di Bandoeng. Dulu aku berpikir, apa istimewanya sih kota ini?” Dengan ekspresi bingung dia menuturkan. “Sekarang aku tahu, kota ini menyenangkan juga, ja? Betul Peter?”

“Menurutku, orang-orang disini sangat pintar! Segala sesuatu bisa dijadikan musik. Bahkan air hujan pun bisa dibuat musik.” William bersemangat, kakinya tak henti bergerak kesana kemari. Aku mendengus, “Kurasa bukan orang sini saja yang pintar, seluruh orang di dunia bagian belahan manapun memang begitu kreatif saat ini. Hanya saja mungkin kalian tak tahu”. Hendrick yang biasanya hanya menimpali ikut bicara, “Mungkin maksud teman-temanku ini adalah menjelaskan kepadamu bahwa dulu, di tempat ini, kota yang kau tinggali, banyak sekali musisi berdatangan untuk memainkan musik mereka. Sama seperti sekarang, di taman-taman, di jalanan, semua bermain musik.”

“Kupikir kau ini bodoh, Hendrick!” Peter berkelakar. Hans memelototi Peter, “Ssshhhh! Dia itu pintar! Bahkan lebih pintar darimu!”. Kami semua tertawa melihat keduanya tak henti bercanda. William menepuk punggung Hendrick, “Itu maksudku! Bukan tanpa alasan kenapa semua orang di kota ini sangat tertarik pada musik. Berjalan sedikit saja, bisa dengan mudah ku lihat orang memainkan alat musik sambil bernyanyi. Karena, kota ini memang sangat nyaman, sudah terkenal dingin sejak dulu sehingga banyak berdatangan ke kota ini hanya untuk menikmati musik dan memainkannya”.

“Semua cerita kalian tentang Bandung Kota Musik ini sudah sering kubaca di internet, kok.” Ujarku sinis. “Internet?” Marianne terlihat mengerutkan kening. “Si kotak ajaib!” William setengah berteriak. “Oh, iya aku tahu. Kau sombong Risa, tak mau mendengar kata-kata kami. Padahal kami berusaha bercerita tentang ini berdasarkan pengalaman kami agar kau semakin senang tinggal di kota ini”. Marianne tampak kesal menatapku.

Aku tersenyum menatap mereka semua, anak-anak kecil sok dewasa yang senang mengguruiku. Sini mendekat ke dekatku, kuminta mereka semua duduk di atas tempat tidurku. Pasti muat, mereka bagai tak berbobot (beda denganku).

“Duduklah di dekatku. Jika kalian sering melihatku mengerutkan kening, bukan berarti aku sedang mengeluh tentang kota ini. Bandung, bagiku adalah segalanya. Aku tahu, kota musik di sematkan pada kota ini bukan tanpa alasan. Bangsa kalian saat menjajah kota ini meninggalkan beberapa peninggalan yang bagus untuk rakyat indonesia. Terlebih di Bandung, yang kudengar… Bangsa kalian memakai kota ini untuk beristirahat, karena cuaca dan alamnya yang hebat. Dalam peristirahatannya, bangsa kalian banyak bersenang-senang dengan bermusik. Bangsaku pintar, rupanya musik-musik itu yang juga mengilhami kami untuk berkreasi mencipta musik indah. Aku suka tinggal disini, aku suka dengan julukan kota ini. Dan yang paling penting, aku suka ada disini… karena kalian semua ada disini. Tapi jangan sering-sering datang, ya? Tiap hari aku harus bangun pagi! Hahahaha”. Aku tertawa sendirian, mereka tak menanggapi candaanku. Mata mereka masih tertegun mendengar kata-kataku.

“Kami juga suka tinggal disini, Risa…” Janshen memelukku. Badanku kembali bergidik kedinginan. “Menjauh dariku anak ompong!”, tawa kami semua pecah  pada akhirnya. Entah menertawakan apa. Bandung dimalam hari saat hujan tiba begitu romantis, meski kuhabiskan waktu dengan hantu-hantu kecil pun tetap romantis…

Sarasvati / fb.com/sarasvatimusic

26 Nov 2015 5925 views // Special Author : Risa

Sumber klik di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s