Kesekian Kalinya tentang Segumpal Rasa

Disini sekitaran pukul sebelas malam, lebih mungkin.
Entah kenapa aku tiba-tiba mengeja satu nama di layar handphone. Meyakinkan diri jika ini memang rasa itu lagi. Lantas tersadar, aku telah menjatuhkan kepala ke sisi kiri-kanan, bergantian.
Aku linglung, ingin menyebut seseorang itu dengan kosa: “mu atau nya”.
Jika “mu” tulisan ini tak pernah kau tahu, bukan sebabnya kau buta huruf, yang lebih tepat hati itu banyak tertutup kabut. Jikapun “nya” aku seperti sedang bercerita, entah pada siapa. Tapi kuputuskan menyebut dengan “mu”ku, aku merasa kita dekat hanya dengan jarak sepermili meter.
Aku tak pernah benar-benar yakin aku punya seorang pendengar. Yang tiap kali aku berceloteh itu tetap tentang satu nama. Itu-itu saja. Dengan rindu yang semakin bertambah bobotnya.
Beberapa hari lalu hujan terus mengguyur kota kecil ini, lalu kutulis sekelumit aksara :

“Tahu kenapa hujan turun berapa hari ini ?
Karna ada seseorang yang merindukanmu, menahan sesak di bawah selimut, karna tak mungkin menangis di depanmu, maka dia meminta hujan luruh, berharap hatimu terkena rinainya pula.Mungkin begitu”

Setelah sekian menit berkutat dengan layar handphone yang sesekali redup. Kuputuskan. Tetap diam. Menunggumu mungkin. Menikmati tiap inci rindu yang semakin tambun.
Dan ternyata….
Aku terlalu pede dengan harapan menunggu kau berkabar barang sedikit. Bukankah sudah kubilang, hatimu terlalu banyak kabut yang menutupi, dan kabut membutnya kentara dingin. Rasa ini menggumpal di tengah malam, diam-diam berubah bentuk menjadi sebentuk bola air. Rindumu terkadang pedih, tapi aku selalu disini, memeluk erat rindumu, bukan rindu kita. Menyakitkan memang, lebih-lebih saat hujan luruh di kota ini namun tak pernah benar-benar menggelontorkan rindu ini.
Dan lagi-lagi, aku menikam hatiku dengan lontaran panah-panah rindu. Memang tidak beracun. Tapi menjadikanku menahan nafas sejenak. Aku tahu itu tak menghilangkan rindumu, minimal membuatku sedikit lega. Bahwa kenyataannya aku belum mati rasa.
Semakin larut, untungnya mataku merasa lelah. Aku tidur dulu. Tenanglah, stok rindumu masih terlalu banyak, tak habis-habis.tumblr_nunyrrJEHf1twt4dho3_540

*kusebut rindu ini dengan “rindumu”, sebab ini memang tentang kerinduan padamu, kirimanmu yang membuat aku tergugu dibawah langit malam itu.

#lagilagi rindu

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s