Memilih

Malam ini aku membuka tumblr, dan tergelitik oleh pertanyaan miftahulfikri pada akun “kunamaibintangitunamamu”.

miftahulfikri asked; Halo, mbak. Kemarin aku sempat tertohok oleh bahasan teman-temanku soal pacaran. Menurut mereka, ada fase dimana kita “pacaran segan, menikah tak mau” yang mungkin saja sebagian orang pernah mengalaminya. Mereka sudah lelah dengan berpacaran yang hanya memenuhi hasrat pemenuhan lifestyle saja, sekedar biar keren dan dibanggakan, tidak dibilang jomblo, atau cuma bisa sekedar diterima di lingkungan pergaulan. Tetapi bila disarankan menikah, mereka juga tidak siap. Bagaimana pendapat mbak soal ini?

Dan dijawablah sepeti ini:

“Halo, mas.

Pada suatu masa semua orang pasti akan terseret ke dalam situasi seperti itu; situasi yang tidak mengurung, tapi orang-orang terjebak di dalamnya. Mereka memilih untuk berdiri tepat di tengah-tengah dua pilihan tersebut: tidak ingin maju juga tidak ingin mundur. Karena jika mereka maju (menikah) atau mundur (putus), mereka akan dihadapi dengan “persoalan” baru.

Ketidaksiapan adalah penghalang segalanya. Ada yang masih ingin bermain-main, masih mengisyaratkan ragu, atau takut mengemban tanggung jawab. Sebagai manusia biasa, wajar jika kita merasakan semua hal itu. Tapi sungguh, siapa yang bisa menentukan kesiapan hati, jika bukan kita sendiri?

Aku rasa, sejentik rasa penyesalan itu pasti akan selalu ada, walau kita telah memutuskan untuk berjalan ke arah yang paling benar sekalipun. Tapi inti dari setiap keputusan adalah kita sadar bahwa kita tidak bisa menggenggam dua hal sekaligus. Apapun yang telah kita pilih, pada masanya itu adalah hal yang paling melegakan kita.

Pada akhirnya, keadaan akan memaksa kita untuk siap. Pada akhirnya, bertahan pada kondisi seperti itu hanya akan membuat kita semakin lelah. Manakah pilihan yang tepat, kita memang tidak pernah tahu itu. Kita akan tahu hanya setelah kita mengalaminya. Tapi jangan pernah merasa kita telah salah memutuskan.”

“Cepat atau lambat, mau atau tidak mau, semua orang pasti harus memilih.” – Hati Sedalam Samudera

Aku sepenuhnya setuju dengan jawabannya, bahkan memang perempuan sangat membutuhkan sebuah kepastian, dan sang pria harus mampu menentukan sikap dan pilihannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s