Tentang Mimpi

Saya pernah ikut duduk berdiskusi tentang manusia. Bersama orang tua dan orang muda sambil menghisap secangkir kopi dan sajian khas pedesaan, seperti singkong goreng, sukun goreng, dan kacang tanah yang direbus.

Kami menikmati hidangan itu sambil berdiskusi tentang hidup. Ada hal-hal terbaik yang saya dapatkan, dan mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di bangku perkuliahan. Tentang kehidupan manusia dan tentang betapa mutakhirnya cara hidup orang-orang tertentu.

Saya tidak tahu harus memulai pembahasan ini darimana. Mari mengalir saja seperti angin. Seperti hidup yang kita jalani saat ini. Dimana kita hidup ditengah masyarakat yang semakin konsumtif. Kita seakan dipaksa untuk membutuhkan sesuatu padalah tidak. Iklan-iklan berbagai macam barang ciptaan manusia silih berganti kita saksikan sehari-hari. Kita seakan dipaksa untuk tidak pernah cukup pada apa-apa yang kita miliki.

Hidup kita semakin rentan. Apalagi bagi kita yang hidup di perkotaan. Dimana segala hal yang kita butuhkan di datangkan dari luar. Sayuran, beras, air, listrik, pakaian, dan segala yang mengisi rumah kita hampir tidak pernah berasal dari sekitar rumah kita sendiri.

Pernah mengalami mati listrik? Air PDAM mati? Kelangkaan beras? Kelangkaan BBM? Kelangkaan cabai? dan segala hal yang apabila itu tidak ada, seolah-olah hidup kita berakhir? Terjadi kerusahan, terjadi pertikaian, dan berbagai hal yang mungkin sering kita saksikan di media masa.

Diskusi kami pada waktu itu hanya ingin menyentuh kesadaran kami sebagai orang kota. Bahwa manusia yang tinggal di perkotaan adalah manusia yang paling rentan. Kita tidak pernah bisa hidup mandiri, segala kebutuhkan kita harus didatangkan dari luar kota. Mungkin saat ini kita merasa segalanya ada di kota. Terasa semuanya tersedia. Padahal itu semua adalah sebuah kenyataan semua. Semuanya tidak tersedia di kota, semuanya itu tersedia dari tempat jauh, tempat yang kita anggap terbelakang, jauh dari peradaban. Ya, tempat itu adalah pedesaan.

Masyarakat desa adalah masyarakat yang paling kuat dari banyak segi kehidupan. Mereka memiliki daya juang yang tinggi, mereka bahkan mampu menghidupkan dapur mereka dari apa yang ada di sekitar rumahnya.

Tidak ada bbm, tidak masalah. Tidak ada listrik, tidak begitu panik. Tidak ada wifi, hidup tetap berjalan. Kelangkaan cabai? Bahkan cabai tumbuh di halaman rumah. Beras dihasilkan dari sawah sendiri, sekali panen biasanya cukup untuk satu tahun kedepan.

Kehidupan berjalan secara harmonis ketika masyarakat dikota kebingungan karena menara BTS ada gangguan dan kehilangan sinyal beberapa jam. Kita mungkin tidak menyadarinya, bahwa kita adalah manusia-manusia yang paling rentan. Dan kita semakin mengokohkan diri ketika kita menjadi semakin konsumtif, ketika apa yang kita butuhkan tidak ada, kita juga tidak bisa menghasilkannya sendiri, mendadak kita marah-emosional-dan merasa hidup ini begitu sulit.

Diskusi itu sudah lama terjadi. Sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Diadakan di sebuah desa yang jauh. Dan yang berdiskusi adalah orang-oran yang hadir dari kota. Kemudian dari diskusi itulah, lahir keinginan saya untuk tinggal di desa suatu hari nanti. Tempat yang cukup tenang untuk bisa hidup sebagai petani, petani yang menulis 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s